ikimonogakari was japanese band, and i loved this song 

afootballreport:

Playing Away - Neville Gable’s Photography Project On Goalposts From All Over The World

As part of the TateShots Collection, Neville Gable has been taking photos of perhaps the simplest, most universal ‘frame’ to be found across the globe. With the design and architecture having an enriched relation to environments, the variety of goalposts produces an ideational definition between the beautiful game and its cultural surroundings. This collection displays the diverse forms of innovation football can inspire. And aren’t the moments of “wow, I would never have thought of making a goalpost like that” made undeniably clear? 

190 notes

afootballreport:

With European football right around the corner once again, the canvas that is A Football Report is begging to be filled with brilliance more than ever.

The best young writers from all over the world have contributed and now you can too. Every continent has been covered, but not every voice….

35 notes

afootballreport:

El Chiquitín Fútbol Club - The wonderful story of the women from Jerez, Spain that will play the beautiful game for as long as they live.

For anyone who has had trouble coming to terms with the fact that the dream of making a living from football has passed, these women courageously show that no matter the circumstances you can play and even try to be the local Messi. Enjoy the weekend everyone.

39 notes

Video: Gol Farri Agri (ASPIRE U-17 Qatar) ke gawang Villarreal U-17

WAWANCARA: Syaffarizal Mursalin Agri, Striker Liga Qatar Yang Ingin Membela Timnas Indonesia

Striker klub Liga Utama Qatar Al-Khor Syaffarizal Mursalin Agri menyampaikan keinginannya untuk memperkuat timnas Indonesia di masa mendatang.

Syaffarizal yang akrab disapa Farri Agri saat ini berstatus sebagai pemain junior Al-Khor. Namun selama pra-musim, remaja berusia 19 tahun itu mengikuti latihan bersama tim utama.

Farri berada di Qatar, karena sedang menjalani kuliah, dan baru menyelesaikan semester dua di Universitas Stenden, Doha, Qatar. Farri membutuhkan waktu tiga tahun lagi untuk memperoleh gelar sarjana jurusan International Business Management.

Dalam percakapan melalui telepon seluler dengan Bima Said, pemimpin redaksi GOAL.com Indonesia, Farri menyampaikan keinginannya untuk tampil bersama timnas Indonesia.

BIODATA Syaffarizal Mursalin AgriName Lengkap
Syaffarizal Mursalin Agri

Nama Panggilan
Farri Agri

Tempat Lahir
Lhokseumawe, Aceh

Tanggal Lahir
8 Agustus 1992

Tinggi / Berat Badan
178 cm / 73 kg

Posisi
Striker, Gelandang

Klub
Al-Khor Sports Club (Qatar Stars League / liga utama Qatar)

Pemain Favorit
Thierry Henry, Lionel Messi

Keluarga
Nama ayah: Agri Sumara
Nama ibu: Cut Mulidawati
Kakak kandung: Jeihan
Adik kandung: Zazza, Ahfad

“Saya sering mengikuti perkembangan sepakbola lewat internet, juga membaca GOAL.com. Semoga tahun 2014 bisa lulus dan semuanya akan lebih jelas, dan saya akan siap untuk lebih sering bermain sepakbola,” ujar Farri.

“Kalau bisa memperkuat tim nasional, apakah U-23 atau senior, pasti merupakan kabar yang baik. Saat ini saya tidak ingin jadwal kuliah terganggu, sambil bermain sepakbola di Al-Khor. Insya Allah, saya bisa membela tim nasional.”

Sempat tersiar kabar Farri Agri akan dinaturalisasi oleh pemerintah Qatar agar bisa memperkuat tim nasional negara itu. Namun Farri Agri membantahnya.

“Berita itu tidak benar. Saya warga negara Indonesia, ingin membela Indonesia,” tegas Farri Agri.

Ditambahkan, dirinya saat ini sedang berusaha meningkatkan kebugarannya. Berdasarkan latihan yang sudah dijalani, kebugaran pemain kelahiran Lhokseumawe, Aceh, itu sudah mengalami peningkatan.

“Saat ini penampilan saya semakin baik. Kepercayaan diri lebih baik dibanding tahun-tahun sebelumnya,” ucap Farri.

“Saat ini saya ingin memperbaiki level fitness saya, supaya bisa mantap menembus tim inti Al-Khor. Mustinya saya ikut bersama tim untuk training camp pra-musim di Jerman beberapa waktu lalu. Tapi saya tidak pergi karena bentrok dengan jadwal kuliah.”

“Saya bermain di tim junior Al-Khor sejak berusia 12 tahun, dan mulai berlatih dengan tim inti sejak usia 16-17 tahun. Tiga hari lalu kami menjalani pertandingan [uji coba]. Saya menjadi pemain pengganti, dan sempat diturunkan selama 35-40 menit.”

Mengenai rumor yang menyebutkan dirinya diberi kesempatan menjalani trial di Paris Saint-Germain (PSG) dan Bolton Wanderers, Farri mengungkapkan: “Itu hanya rumor. Informasi yang ada di Wikipedia tidak sepenuhnya benar. Saya tidak pernah trial dengan PSG.”

“Awalnya saya ingin memperkuat Bolton dengan pergi ke sana sendiri untuk trial. Tapi kemudian akademi [ASPIRE Academy for Sports Excellence di Doha, Qatar] menemukan talenta saya, dan mereka yang merekrut saya pada 2007.”

Farri Agri juga tidak menutup kemungkinan untuk bermain di liga di Indonesia. Namun, ia saat ini lebih fokus menyelesaikan kuliahnya terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan terjun ke sepakbola profesional atau tidak.

“Saya masih berusia 19 tahun. Saat ini saya juga fokus ke kuliah, dan masih ada tiga tahun lagi. Main di liga Indonesia belum bisa dipastikan, dan baru bisa dipertimbangkan setelah lulus kuliah,” ungkap Farri Agri.

“Setiap hari saya bermain bola di Al-Khor, harus mengatur waktu dengan jadwal kuliah. Pemain-pemain lainnya lebih tua, lebih berpengalaman, jadi saya banyak belajar dari mereka.”

“Posisi saya semula striker, tapi sejak ada pelatih baru, saya lebih sering ditempatkan di lini tengah. Dengan kerja keras, saya yakin bisa menembus sebagai pemain reguler tim inti.”

bagaimana cara agar sepakbola indonesia bisa maju ?

Tim nasional sepak bola Indonesia pernah memiliki kebanggaan tersendiri, menjadi tim Asia pertama yang berpartisipasi di Piala Dunia FIFA pada tahun 1938. Saat itu mereka masih membawa nama Hindia Belanda dan kalah 6-0 dari Hongaria, yang hingga kini menjadi satu-satunya pertandingan mereka di turnamen final Piala Dunia. Ironisnya, Indonesia memiliki jumlah penduduk yang sangat banyak dan memiliki masyarakat dengan minat yang sangat tinggi terhadap olahraga sepak bola, menjadikan sepak bola olahraga terpopuler di Indonesia (selain bulu tangkis), namun Indonesia tidaklah termasuk jajaran tim-tim kuat di Konfederasi Sepakbola Asia.

Di kancah Asia Tenggara sekalipun, Indonesia belum pernah berhasil menjadi juara Piala AFF (dulu disebut Piala Tiger) dan hanya menjadi salah satu tim unggulan. Prestasi tertinggi Indonesia hanyalah tempat kedua di tahun 2000, 2002, dan 2004, dan 2010 (dan menjadikan Indonesia negara terbanyak peraih runner-up dari seluruh negara peserta Piala AFF). Di ajang SEA Games pun Indonesia jarang meraih medali emas, yang terakhir diraih tahun 1991.

Di kancah Piala Asia, Indonesia meraih kemenangan pertama pada tahun 2004 di China setelah menaklukkan Qatar 2-1. Yang kedua diraih ketika mengalahkan Bahrain dengan skor yang sama tahun 2007, saat menjadi tuan rumah turnamen bersama Malaysia, Thailand, dan Vietnam.

Kostum tim nasional Indonesia tidak hanya merah-putih sebab ada juga putih-putih, biru-putih, dan hijau-putih. Menurut Bob Hippy, yang ikut memperkuat timnas sejak tahun 1962 hingga 1974, kostum Indonesia dengan warna selain merah-putih itu muncul ketika PSSI mempersiapkan dua tim untuk Asian Games IV-1962, Jakarta.

Saat itu ada dua tim yang diasuh pelatih asal Yugoslavia, Toni Pogacnic, yakni PSSI Banteng dan PSSI Garuda. Yang Banteng, yang terdiri dari pemain senior saat itu, seperti M. Zaelan, Djamiat Dalhar, dan Tan Liong Houw, selain menggunakan kostum merah-putih juga punya kostum hijau-putih. Sedangkan tim Garuda, yang antara lain diperkuat Omo, Anjik Ali Nurdin, dan Ipong Silalahi juga dilengkapi kostum biru-putih. Tetapi, setelah terungkap kasus suap yang dikenal dengan “Skandal Senayan”, sebelum Asian Games IV-1962, pengurus PSSI hanya membuat satu timnas. Itu sebabnya, di Asian Games IV-1962, PSSI sama sekali tidak mampu berbuat apa-apa karena kemudian kedua tim itu dirombak. Selanjutnya digunakan tim campuran di Asian Games.

Mulyadi (Fan Tek Fong), asisten pelatih klub UMS, yang memperkuat timnas mulai tahun 1964 hingga 1972, menjelaskan bahwa setelah dari era Asian Games, sepanjang perjalanan timnas hingga tahun 1970-an, PSSI hanya mengenal kostum merah-putih dan putih-putih. Begitu juga ketika timnas melakukan perjalanan untuk bertanding di sejumlah negara di Eropa pada tahun 1965. Saat itu setiap kali bermain, tim nasional hanya menggunakan merah-putih dan putih-putih dengan gambar Garuda yang besar di bagian dada hingga ke perut. Seragam hijau-putih kembali digunakan saat mempersiapkan kesebelasan pra-Olimpiade 1976, dan kemudian digunakan pada arena SEA Games XI-1981 Manila. “Begitu juga ketika Indonesia bermain di Thailand, di mana saat itu Indonesia menjadi runner-up Kings Cup 1981,” kata Ronny Pattinasarani yang memperkuat PSSI tahun 1970-1985.

Di Piala Asia 2007 yang digelar mulai 8 Juli hingga Minggu 29 Juli, Nike juga telah mendesain kostum tim nasional Indonesia, tetapi kali ini bukan hijau-putih, melainkan putih-hijau. Tentu tetap dengan detail yang sama, seperti Garuda yang selalu bertengger di dada.

Dan pada kostum Timnas Indonesia terakhir yang dibuat Nike pada 2010 untuk Piala Suzuki AFF 2010, motif baru kembali diperkenalkan. Pada kostum ini, terdapat Burung Garuda besar yang membentang hampir di seluruh bagian depan kostum yang tidak berwarna tetapi memiliki garis-garis yang memiliki warna hitam cenderung abu-abu. Sementara pada kostum kedua yang berwarna Putih-Hijau, terdapat motif yang sama, tetapi garis-garis pada burung Garuda berwarna abu-abu muda.

Indonesia pada tahun 1938 (di masa penjajahan Belanda) sempat lolos dan ikut bertanding di Piala Dunia 1938. Waktu itu Tim Indonesia di bawah nama Dutch East Indies (Hindia Belanda), peserta dari Asia yang pertama kali lolos ke Piala Dunia. Indonesia tampil mewakili zona Asia di kualifikasi grup 12. Grup kualifikasi Asia untuk Piala Dunia 1938 hanya terdiri dari 2 negara, Indonesia (Hindia Belanda) dan Jepang karena saat itu dunia sepak bola Asia memang hampir tidak ada. Namun, Indonesia akhirnya lolos ke final Piala Dunia 1938 tanpa harus menyepak bola setelah Jepang mundur dari babak kualifikasi karena sedang berperang dengan Cina.

Pada tahun 1930-an, di Indonesia berdiri tiga organisasi sepak bola berdasarkan suku bangsa, yaitu Nederlandsch Indische Voetbal Bond (NIVB)yang lalu berganti nama menjadi Nederlandsch Indische Voetbal Unie (NIVU) di tahun 1936 milik bangsa Belanda, Hwa Nan Voetbal Bond (HNVB) punya bangsa Tionghoa, dan Persatoean Sepakraga Seloeroeh Indonesia (PSSI) milik orang Indonesia. Nederlandsch Indische Voetbal Bond (NIVB) sebuah organisasi sepak bola orang-orang Belanda di Hindia Belandamenaruh hormat kepada Persatoean Sepakraga Seloeroeh Indonesia (PSSI) lantaran Soerabajasche Indonesische Voetbal Bond (SIVB)yang memakai bintang-bintang dari NIVBkalah dengan skor 2-1 lawan Voetbalbond Indonesia Jacatra (VIJ)salah satu klub anggota PSSIdalam sebuah ajang kompetisi PSSI ke III pada 1933 di Surabaya.

NIVU yang semula memandang sebelah mata PSSI akhirnya mengajak bekerjasama. Kerjasama tersebut ditandai dengan penandatanganan Gentlemen’s Agreement pada 15 Januari 1937. Pascapersetujuan perjanjian ini, berarti secara de facto dan de jure Belanda mengakui PSSI. Perjanjian itu juga menegaskan bahwa PSSI dan NIVU menjadi pucuk organisasi sepak bola di Hindia Belanda. Salah satu butir di dalam perjanjian itu juga berisi soal tim untuk dikirim ke Piala Dunia, dimana dilakukan pertandingan antara tim bentukan NIVU melawan tim bentukan PSSI sebelum diberangkatkan ke Piala Dunia (semacam seleksi tim). Tapi NIVU melanggar perjanjian dan memberangkatkan tim bentukannya. NIVU melakukan hal tersebut karena tak mau kehilangan muka, sebab PSSI pada masa itu memiliki tim yang kuat. Dalam pertandingan internasional, PSSI membuktikannya. Pada 7 Agustus 1937 tim yang beranggotakan, di antaranya Maladi, Djawad, Moestaram, Sardjan, berhasil menahan imbang 2-2 tim Nan Hwa dari Cina di Gelanggang Union, Semarang. Padahal Nan Hwa pernah menyikat kesebelasan Belanda dengan skor 4-0. Dari sini kedigdayaan tim PSSI mulai kesohor.

Atas tindakan sepihak dari NIVU ini, Soeratin, ketua PSSI yang juga aktivis gerakan nasionalisme Indonesia,sangat geram. Ia menolak memakai nama NIVU. Alasannnya, kalau NIVU diberikan hak, maka komposisi materi pemain akan dipenuhi orang-orang Belanda. Tapi FIFA mengakui NIVU sebagai perwakilan dari Hindia Belanda. Akhirnya PSSI membatalkan secara sepihak perjanjian Gentlemen’s Agreement saat Kongres di Solo pada 1938.

Maka sejarah mencatat mereka yang berangkat ke Piala Dunia Perancis 1938 mayoritas orang Belanda. Mereka yang terpilih untuk berlaga di Perancis, yaitu Bing Mo Heng (kiper), Herman Zommers, Franz Meeng, Isaac Pattiwael, Frans Pede Hukom, Hans Taihattu, Pan Hong Tjien, Jack Sammuels, Suwarte Soedermadji, Anwar Sutan, dan Achmad Nawir (kapten). Mereka diasuh oleh pelatih sekaligus ketua NIVU, Johannes Mastenbroek. Mo Heng, Nawir, Soedarmadji adalah pemain-pemain pribumi yang berhasil memperkuat kesebelasan Hindia Belanda, tetapi bertanding di bawah bendera kerajaan Nederland. [1]

Pada 5 Juni 1938, sejarah mencatat pembantaian tim Hungaria terhadap Hindia Belanda. Mereka bermain di Stadion Velodrome Municipale, Reims, Perancis. Sekitar 10.000 penonton hadir menyaksikan pertandingan ini. Sebelum bertanding, para pemain mendengarkan lagu kebangsaan masing-masing. Kesebelasan Hindia Belanda mendengarkan lagu kebangsaan Belanda Het Wilhelmus. Karena perbedaan tinggi tubuh yang begitu mencolok, walikota Reims menyebutnya, “saya seperti melihat 22 atlet Hungaria dikerubungi oleh 11 kurcaci.”

Meski strategi tak bisa dibilang buruk, tapi Tim Hindia Belanda tak dapat berbuat banyak. Pada menit ke-13, jala di gawang Mo Heng bergetar oleh tembakan penyerang Hongaria Vilmos Kohut. Lalu hujan gol berlangsung di menit ke-15, 28, dan 35. Babak pertama berakhir 4-0. Nasib Tim Hindia Belanda tamat pada babak kedua, dengan skor akhir 0-6. Pada saat itu Piala Dunia memakai sistem knock-out.

Meskipun kalah telak, surat kabar dalam negeri, Sin Po, memberikan apresiasinya pada terbitan mereka, edisi 7 Juni 1938 dengan menampilkan headline: “Indonesia-Hongarije 0-6, Kalah Sasoedahnja Kasi Perlawanan Gagah”.